Laman

Sabtu, 18 Maret 2017

him.

As you guys know kalo blog adalah tempat pelarian cerita gue. Bukan, bukan merahasiakan untuk diceritakan langsung kepada orang lain, tapi rasanya ada beberapa hal yang kayanya susah untuk diceritain face to face sama orang lain. So I keep it to myself first, kalo rasanya udah gabisa kesinilah pelariannya.

Entah udah dari berapa lama waktu yang lalu, gue selalu menilai bahwa orang yang memakai kacamata punya nilai plus tersendiri, di mata gue. Tanpa terekcuali, mau cewe, atau cowo sekalipun. Tapi yang kali ini ingin gue tekankan adalah soal cowo. Gue ngga pernah liat sosok cowo satu ini sebelumnya, sampe tiba waktu krs-an. Itu kali pertama gue liat dia. Yang ajaib, gue langsung tau namanya sejak pertama kali gue liat dia. Hebat ngga? Biasa aja sih. Inisialnya W. Kenapa bisa langsung tau namanya? Simply karna dia pake pdl yang ada nama dianya. Se-simple itu.

Berawal dari situ, di beberapa acara jurusan, gue sempet liat dia beberapa kali. Tapi yang paling sering, gue sering banget liat dia di gazebo. Setiap gue asistensi asprak di gazebo, gue selalu diam-diam mencari sosok menggemaskan itu. Sekali ketemu, kirain kebetulan. Dua kali ketemu, masih kebetulan yang kedua kali. Tiga kali ketemu, mulai sotoy mikir kalo tandanya jodoh. Whoooops. Ngga deng. Gimana ya, seneng aja rasanya. Sekalipun orang satu itu juga ngga akan ngeh gue siapa. Padahal cuma liat lho. Liat. Gue doang yang liat dia. Gimana ngobrol.

Di kantin, satu kali gue liat dia lewat aja senengnya setengah mati. Di lobby, selalu gue cari-cari orang satu itu. Belum aja nih sampe nanti tiba-tiba satu lift, bisa ikut-ikutan turun di lantai yang dia tuju. Gue nulis ini in case nanti gue lupa kalo ada hal-hal yang as long as it makes me happy, ya yaudah, inget, lakuin terus. I know this is creepy enough but at least gue tidak meneror dia dengan hal apapun, hanya diam-diam meneror dia dengan penglihatan gue yang dia pun enggan untuk menyadarinya.

Jumat, 23 Desember 2016

Hampir satu semester di Sosiologi Brawijaya.

Halo, hari ini tepat hari pertama saya memasuki minggu tenang sebelum liburan natal dan tahun baru, serta sebelum memasuki pekan uas. Uas saya akan dilaksanakan 3 Januari nanti. Doakan saya ya semoga saya dapat mengerjakan dengan baik. Saya sedikit banyaknya ingin bercerita bagaimana saya bisa masuk di jurusan sosiologi, yang bukan merupakan tujuan awal saya, di Malang pula, di kota diluar ekspektasi saya. Mari berjelajah ke beberapa bulan yang lalu, bagaimana saya bisa sampai disini.

Untuk adik-adik yang sedang menjalani kelas 12, percayalah saya pernah berada pada posisi kalian. Pernah bingung memilih jurusan, pernah bingung memilih universitas mana yang akan saya pilih untuk saya ikuti di beberapa jalur masuk ptn, seperti snmptn (undangan), sbmptn (tertulis), ataupun ujian tertulis mandiri. Percayalah saya pernah berada pada titik mengikuti bimbel sampai saya pun bosan sendiri, tapi saya pun tetap menjalaninya, karna ada tujuan yang harus saya capai.

Dari kelas 10 dahulu, tujuan saya cuma satu : masuk jurusan Psikologi, walaupun belum betul-betul mantap. Alasannya simple, saya ingin mengerti dan memperlakukan orang lain dengan baik. Walaupun sekarang saya sadar bahwa alasan itu universal dan bisa didapat tidak hanya lewat jurusan psikologi. Waktu tetap berjalan, tidak terasa saya tiba di penghujung waktu dimana sisa masa SMA saya akan berakhir. Kelas 12. Memasuki kelas 12, saya pun disibukkan dengan pusing membagi waktu antara belajar untuk UN dan SBMPTN dan saya pun mengambil kesimpulan untuk belajar mana yang lebih dahulu, yaitu UN, baru SBMPTN, dan saran saya baiknya mengikuti bimbel yang menjalani keduanya sekaligus, pada waktu saya bimbel di INTEN. 

Urutan jalur masuk ptn pada zaman saya adalah snmptn - sbmptn - jalur ujian mandiri. Sebelum pendaftaran snmptn pun, saya sudah konsultasi dengan guru bk dan bimbel. Setelah mempertimbangkan kuota, akreditasi kampus, akreditasi jurusan yang saya pilih, serta banyaknya teman yang berencana mengambil jurusan yang sama dengan saya, pada akhirnya saya tetap nekat mempertahankan kemauan awal saya. Egois memang. Tidak perlu ditiru. Namun juga harus tau konsekuensinya. Waktu itu saya tetap memilih Psikologi UI. Dari kesempatan untuk memilih 3 jurusan, saya waktu itu hanya memilih satu. Padahal saya tau bahwa kemungkinan saya untuk lolos sangat kecil. Tapi mindset saya waktu itu, kalo rezeki ngga akan kemana.

Setelah pendaftaran snmptn, saya diam-diam menaruh harapan akan lolos, tapi saya juga menyiapkan kemungkinan terburuk. Saya juga tetap menyiapkan sbmptn sebaik yang saya bisa. Beberapa bulan berlalu, tibalah di pengumuman snmptn. Singkat cerita, saya dinyatakan tidak lolos. Saya tidak lolos di jalur SNMPTN2016. Yang lebih menyakitkan lagi, satu orang teman di SMA saya, teman sejak saya SMP dulu, Ia lolos dengan jurusan yang sama dengan yang saya pilih. Dan ada beberapa teman saya yang lolos snmptn diluar ekspektasi bahkan guru saya sendiri. Intinya, jangan pernah menaruh sepenuhnya harapan kalian di snmptn, ngga ada yang bener-bener tau cara universitas meloloskan orang di snmptn itu gimana. Harus siap dengan pahit-pahitnya, kasarnya. Teman saya yang peringkat satu paralel pun tidak lolos di jalur snmptn waktu itu.

Saya pun mengambil kesempatan lain di jalur SBMPTN. Kalau ditanya sedih dan lelah, itu pasti. Kenyataan menyakitkan bahwa saya harus mengetahui teman-teman yang sudah lolos di snmptn dulu, sudah santai, sudah tidak perlu lagi belajar TKPA dan soshum (saya ips). Yang perlu diingat, disaat inilah saya tahu mana teman yang bisa mendukung saya, mana teman belajar bersama saya, mana teman yang bisa diajak mengejar cita-cita bersama. Saling menyemangati teman di saat-saat seperti ini menurut saya juga penting, karna yang dibutuhkan saat ini hanya dukungan dan kepercayaan dari orang lain, bahwa kita bisa. Kita bisa lolos di jalur ujian masuk yang berikutnya. Lagi-lagi saya konsultasi dengan guru di bimbel saya, pilihan saya tetap sama, psikologi. Tapi kali ini saya berusaha untuk menggunakan kesempatan yang ada, saya memilih 3 jurusan yang disediakan pada jalur sbmptn. Saya waktu itu memilih, Psikologi UGM, Psikologi UB, dan Sosiologi UB. Entah karna apa saya memilih sosiologi, saya tidak punya pilihan lain. Sosiologi adalah satu-satunya pelajaran soshum yang bisa saya terima dengan baik sewaktu sma dulu, jadi saya berakhir memilih sosiologi, toh fokus utamanya tetap soal masyarakat, pikir saya. Tidak hanya mengikuti SBMPTN, saya pun mengikuti ujian mandiri UGM (UTUL) dan Undip, dengan diam-diam tetap menaruh Psikologi pada pilihan jurusan test tersebut.

Hari pengumuman SBMPTN pun tiba, saya ingat betul pengumuman dibuka pada pukul 14.00 dan saya pun tidak menginginkan membukanya tepat waktu. Takut servernya penuh, pikir saya waktu itu. Posisi saya waktu itu juga sedang pergi ke Grand Indonesia, bulan puasa. Saya pun sedang berada di H&M pada saat tiba pukul 2. Sekitar pukul 14:15 saya dengan harapan yang semakin menipis, mulai membuka pengumuman tersebut, detik berlalu, beberapa menit saya nantikan dengan kemungkinan terburuk yang mungkin bisa terjadi (lagi). Dan hasilnya pun.......

Saya lolos SBMPTN2016 di pilihan terakhir saya,


Senang adalah pasti. Tapi satu hal yang perlu saya ingat, saya bukan lolos di jurusan awal yang saya mau. Saya bukan lolos di jurusan Psikologi. Beberapa hari kemudian, tibalah untuk pengumuman ujian mandiri utul dan undip. Mungkin memang beginilah takdir Tuhan untuk saya, lagi-lagi saya tidak diloloskan pada ujian tersebut, habis sudah kesempatan saya untuk bisa mengambil jurusan Psikologi, kecuali satu, cadangan saya yaitu Psikologi BINUS. Ada jarak beberapa waktu untuk melakukan daftar ulang sbmptn tersebut, Saya pun memikirkan manakah jurusan yang harus saya ambil, psikologi binus atau sosiologi ub. Karna satu dan lain hal, saya pun mengambil sosiologi ub saya. Ini bukan tujuan awal saya, tapi mungkin ini cara Tuhan untuk awal yang lebih baik untuk saya.

Di Malang lah saya sekarang, saat menulis post ini. Satu semester hampir saya jalani pada jurusan sosiologi ini. Saya benar-benar habis pikir mau jadi apa saya setelah lulus. Tapi sedari dulu, mindset saya memang bukan mengambil jurusan untuk pekerjaan saya nanti. Saya dulu memilih psikologi bukan untuk jadi psikolog nantinya. Sekarang saya di sosiologi, saya tidak ingin untuk menjadi seorang sosiolog. Jujur, saya benar-benar tidak tahu sosiologi itu mempelajari apa awalnya, mungkin saya masih butuh waktu untuk memahami hal ini, apalagi sosiologi bukanlah jurusan yang 'eksis' di masyarakat. Masih banyak juga masyarakat yang beranggapan bahwa sosiologi itu sama dengan psikologi.

Saya belum bisa membahas secara banyak pada semester awal saya pada jurusan ini. Intinya, sosiologi saat kuliah tidak semudah sosiologi di SMA, bahkan beberapa materi yang diajarkan di sma justru salah pemahaman dengan yang dipelajari saat kuliah. Satu hal yang perlu saya tangkap dari awal adalah bahwa sosiologi di perkuliahan tidak bersifat menghafal seperti saat sma dulu. Lagi-lagi, saya menyayangkan bagaimana secara tidak langsung cara belajar saya dulu dibiasakan untuk menghafal ketika sma, walaupun guru sosiologi sma saya adalah salah satu guru kesayangan saya juga.  

Pada semester awal ini, mata kuliah yang saya dapat diantaranya adalah TIK, pengantar sosiologi, dasar ilmu filsafat, ilmu politik, bahasa indonesia, sociological academic skill, agama, dan sistem hukum indonesia. Mungkin itu bisa menjadi sedikit gambaran bagi yang ingin mengetahui jurusan sosiologi itu seperti apa, terutama di UB sendiri. Sosiologi juga ada praktikumnya lho! Yaitu berupa pengamatan langsung di lapangan, sesekali saya dan beberapa teman pernah ditugaskan untuk mengamati langsung kegiatan masyarakat di sekitar Pombensin. Kemudian, kami diharuskan menulis isi dari laporan pengamatan tersebut, hal apa sajakah yang bisa kami tangkap, dan sebagainya. Untuk urusan 'menuliskan laporan' atau menulis apapun itu, saya sempat mendengar bahwa dosen-dosen sosiologi disini adalah dosen yang sangat perfeksionis. Gosipnya lagi setiap wisuda, jurusan sosiologi adalah salah satu yang lulusannya sedikit diantara jurusan di FISIP UB yang lainnya. Jadi, jangan meremehkan jurusan yang 'kurang eksis' di masyarakat satu ini.

Mungkin sedikit saja yang bisa saya ceritakan sejauh ini, maklum, saya pun masih berproses untuk belajar memperdalam dan mengerti sosiologi lebih jauh. Maaf juga jika saya terlalu banyak curhat dibanding membahas jurusan sosiologi seperti judul post diatas. Tapi, semoga cerita saya diatas bisa membantu sedikit penasaran kalian terhadap jurusan sosiologi itu sendiri. Doakan UAS saya, ya. Terimakasih kesempatan waktunya untuk membaca tulisan ini. Oh iya, untuk yang ingin bertanya lebih lanjut soal jurusan sosiologi ini, mungkin bisa hubungi saya lewat line jika mau, id line saya: adnidinda. Semoga bermanfaat :)

Jumat, 16 Desember 2016

Apa hanya saya yang merasa?

Diantara bunyi rintik hujan yang menemani saya malam ini, Saya ingin menuliskan apa yang saya pikirkan, namun terlalu takut untuk saya katakan kepada orang lain, entah itu teman saya sendiri. Sekarang hari Jumat. Sepulang kuliah saya hari ini, saya seperti biasa, memesan Go-Jek untuk pulang. Tanpa Via, yang biasanya memberi tumpangannya pada saya. Beberapa menit menunggu, tidak ada yang mengambil orderan saya. Mungkin ini sudah malam, ucap saya dalam hati. Maklum, keberadaan Go-Jek di Malang tidak seliar di Jakarta. Pada detik itu saya belum menyadari bahwa diluar sana hujan turun dengan derasnya. Saya pun menunggu di lobby fisip dengan sabar, bersama Farah, kebetulan. Menit demi menit berlalu. Deras - sedang - reda. Saya kembali meng-order Gojek. Hasilnya nihil. Alternatif saya adalah saya pulang menggunakan Kejo. Tapi saya kurang beruntung kali ini, driver full, dan saya lagi-lagi harus menunggu.

Alternatif berikutnya adalah saya pulang dengan ayojek. Syukurlah ada driver yang mengambil order saya. Saya menunggu beberapa saat hingga Ia sampai. Rey, namanya. Percakapan pertama kali yang Ia buka adalah "maba ya?" dan dengan jawaban yang sudah pasti saya iya-kan. Percakapan demi percakapan berjalan diluar dugaan saya. Dia pun mengakui bahwa dia juga maba dan secara tidak sengaja kami sebenarnya berada pada suatu group lkm yang sama di line. Bukan. Saya tidak akan bercerita soal saya menyukai dia. Yang ingin saya ceritakan adalah, bagaimana saya merasa nyaman berbicara dengan orang-orang baru, walaupun mungkin alasan sebenarnya adalah tergantung. Tergantung dengan siapa saya berbicara. 

Saya bukan tipikal orang yang bisa membuka percakapan, walaupun saya sedang berusaha untuk itu. Saya tergolong orang yang pendiam, terlebih dengan orang yang belum terlalu saya kenal, tapi ini masih manusiawi. Tapi, ada yang berbeda saat saya berhadapan semisal dengan pengemudi Go-Jek ataupun ojek mahasiswa yang lainnya. Di keadaan ini, saya akan merasa lebih sebal ketika saya didiamkan di perjalanan, tidak diajak berkomunikasi. Kan bisa saya duluan yang membuka obrolannya? Sudah saya tuliskan diatas bahwa saya bukan orang yang bisa membuka percakapan, belum. Tapi, di sisi lain, saya bisa melanjutkan obrolan tersebut apabila ada pihak lain yang memulai.

Kembali ke Rey, dari perjalanan singkat itu, saya setidaknya tahu darimana asalnya, dimana Ia tinggal, alasannya memilih kuliah disini, sampai kami sama-sama pernah memperjuangkan kampus di Daerah Istimewa Yogyakarta sana, UGM, dan saya tahu bahwa Ia pernah berambisi untuk dapat berkuliah di Yogya sana. 

Dari kejadian tersebut saya berpikir, apa yang menyebabkan saya dapat lebih terbuka dengan orang-orang baru tak terduga yang saya jumpai? Berbeda halnya ketika saya mati-matian mencari obrolan kepada teman-teman yang saya jumpai setiap hari. Mungkin jawabannya saya dapat terbuka karna tidak ada ekspektasi apa-apa disana. Saya bisa bertanya, membahas hal apapun, toh nanti belum tentu ketemu lagi, jadi bisa lebih bebas. Mungkin. Sejauh ini, apa hanya saya yang merasa dengan hal-hal seperti ini?

Minggu, 11 Desember 2016

Sebuah Cerita Sederhana dari Sudut Kota Malang.

Untuk beberapa waktu yang lalu, Malang pernah menjadi kota yang selalu gue harapkan bisa gue datangi sesering mungkin. Alasannya sederhana, karna waktu itu, masih ada seseorang yang ingin gue jumpai, tapi tidak lagi, setidaknya untuk sekarang ini. Sekeras apapun kemudian gue menolak, Tuhan selalu punya rencananya sendiri yang kemudian mengantarkan gue untuk setidaknya menetap di kota ini, untuk melanjutkan pendidikan, untuk memberikan pembelajaran.

Beberapa bulan di Malang, mengajarkan gue akan banyak hal. Selain memang dituntut untuk apa-apa bisa sendiri, serta bertransformasi dan beradaptasi sebagai mahasiswa yang menjalani perkuliahan yang (kadang-kadang) memusingkan, banyak pembelajaran yang bisa gue ambil entah dari pengalaman gue sendiri ataupun teman-teman di sekeliling gue.

Lingkungan perkuliahan emang lebih luas. Beberapa rangkaian ospek, entah itu ospek universitas, fakultas, maupun jurusan menuntut kita untuk lebih kenal sama banyak orang, even nantinya cuma ketemunya ya sekilas-sekilas aja, terlebih lagi kalo udah beda jurusan dan beda fakultas. 

Sedikit out of topic, sebagai satu dari sekian banyak orang yang pernah mengalami LDR (dan untungnya sekarang sudah tidak), gue  bisa banget ngebayangin rasanya berada di sisi pejuang-pejuang LDR itu. Terlebih, di antara beberapa temen-temen gue yang mengalami ldr, gue berpihak sebagai pihak pengamat. Oh bukan, masih kurang layak disebut sebagai pengamat, lebih sebagai -- pihak yang kebetulan berada cukup dekat dengan salah satu pasangan yang sedang menjalani ldr. Dibilang dekat juga engga, tapi gue tau apa yang si 'A' lakukan di kampus karna gue masih satu lingkungan dengan dia, berbeda dengan pacarnya, yang entah tidak gue ketahui lebih lanjut apakah dia mengetahui apa yang dilakukan pacarnya atau engga.

Long Distance Relationship. LDR. Ada jarak diantara hubungan yang sedang dijalani, ada waktu yang dikorbankan untuk sebuah pertemuan, ada rindu yang dipendam sebelum tercurah di sebuah pertemuan, ada pula kuota terbatas yang terpaksa harus dihabiskan untuk menghubunginya. Tsah. Untuk ldr, yang lo butuhin ga salah lagi adalah sebuah komitmen, dan pacar, tentunya. Gabisa tuh yang namanya lo seenaknya, banyak temen ya ga masalah, relasi itu ya sedikit banyaknya juga penting untuk kehidupan lo, tapi please, tau batasan. Come on man, jangan mentang-mentang, pacar lo jauh, lo berpikir dia ga akan tau apa yang lo perbuat, terus lo bisa (kasarnya) bego-begoin dia.

Seperti yang gue bilang di awal, pengalaman ini gue ambil dari kejadian teman gue sendiri. Soal seorang cowo yang mendekati seorang cewe lain, padahal dia sendiri udah punya pacar. Dan ya, mereka ldr-an. Dekat sebagai teman? Okay. Tapi teman yang hampir setiap hari ngajak makan bareng, keluar malem, apa namanya? Semuanya tanpa masalah, sampai akhirnya si cewe ini mempertanyakan bagaimana posisi dirinya sendiri. Diberi penjelasan pun tidak, kepastian apalagi, dan yang hadir hanya pertanyaan-pertanyaan membingungkan yang tidak berani disampaikan.

Untuk yang sedang menjalani ldr, selalu ingat bahwa ngga selamanya semuanya bisa diikutin pake kata hati, sekali-sekali logika dan otak juga perlu kamu bawa dalam hubungan itu. Coba untuk ngejalanin ldr itu boleh, tapi kalo ditengah jalan kamu ragu, lebih baik stop daripada kamu nyiksa diri sendiri dan bisa jadi nyiksa orang lain juga nantinya. Berharap itu boleh, tapi harus tetap realistis dengan segala kemungkinan yang ada.

Dan untuk yang ldrnya terputus di tengah jalan, memang tidak ada pihak yang bisa disalahkan, karena kuncinya adalah tahu diri dan saling menghargai.  

Senin, 19 September 2016

Satu hal soal jatuh cinta

Semua orang pernah jatuh cinta, kamu (baca: kita) bisa jatuh cinta dengan berbagai alasan. Bisa karena sifatnya atau murni jatuh cinta karena orang itu adalah dia. Dia, yang tanpa kamu sadar kamu kagumi sejak awal perkenalan dahulu.

Aku selalu takut untuk jatuh cinta. Lagi. Sesuai dengan namanya, jatuh cinta. Kamu harus siap untuk merasakan sakit kalau kamu tiba-tiba 'jatuh cinta' nanti, dijatuhkan lebih tepatnya. Tidak ada yang pasti soal jatuh cinta sampai kamu menyatakan perasaanmu sendiri. Sebelum proses itu, yang bisa kamu lakukan hanya menebak-nebak di dalam pikiran dan perasaanmu sendiri. 

Apakah dia mempunyai perasaan yang sama? 

Apakah dia diam-diam juga memikirkanmu seperti apa yang kamu lakukan setiap harinya?

Apakah dia berharap bertemu kamu dalam mimpi di setiap tidurnya?

Apakah dia takut dijatuhkan oleh kamu yang kemudian membuatnya takut untuk jatuh cinta lagi nantinya?

Tidak ada yang benar-benar tahu jawabannya, karena jatuh cinta adalah soal menerima ketidakpastian.

Teruntuk kamu, H.

Kamu adalah jawaban dari ketidakpastian itu.

Terimakasih telah meluangkan waktu untuk datang menghampiri beberapa waktu ini. Terimakasih telah membuka diri dan mengizinkan aku untuk mengenal kamu lebih jauh lagi. Maaf, karena sempat merepotkan kamu waktu itu. Maaf, untuk segala perkataan yang mungkin menyakiti kamu. Untuk sekarang dan seterusnya, kamu tidak perlu lagi lelah untuk mencari cara bagaimana agar kita tetap baik-baik saja karena aku dan kamu akan tetap berakhir menjadi dua orang manusia yang pernah dekat kemudian dijauhkan lagi oleh keadaan. Oleh ketidakpastian.

Banyak yang diam-diam aku ketahui soal kamu. Jika kamu menilai aku yang seolah-olah tidak peduli, kamu salah. Aku terlalu peduli akan kamu yang membuatku lupa oleh ketidakpastian itu sendiri. Ah sudahlah, biar aku yang mencari caraku sendiri untuk tidak memperdulikan kamu lagi.

Kata terakhir, selamat.

Selamat karena telah menemukan kembali seseorang yang mungkin sudah kamu cintai sejak dulu.



dari Malang, 
untuk seseorang yang berada di sudut Jakarta sana.

Minggu, 24 Juli 2016

Dia, yang ditemui di perjalanan ini.

Di Stasiun Tawang, Semarang, 16 Juli yang lalu, semua pelajaran dan kenangan berawal dari sini. Gue, malam itu masih harus menunggu disitu kurang lebih dua jam lagi untuk bisa transit di Surabaya lalu berakhir ke Malang. Bosen? Pasti. Gabut? Banget. Ngga ada yang spesial, awalnya. Gue yang diam-diam masih selalu berharap bertemu orang yang ngga diduga di suatu tempat nyatanya memang masih belum dipertemukan oleh siapapun. 

Sampai akhirnya, ada dia. Ada seseorang yang berhasil mengacaukan fokus gue untuk menunggu jam kedatangan kereta yang akan gue tumpangi. Gue masih inget lagu apa yang sedang gue dengarkan saat pertama kali mata gue melihat kedatangan dia, dia dengan kaos hitamnya, dia yang menggendong carrier merahnya, dia yang datang berdua dengan temannya, dia yang kemudian duduk di sebelah anak kecil bersama ibunya, dia yang kemudian gue perhatikan diam-diam tersenyum sambil menelpon seseorang di sebrang sana, mungkin pacarnya, mungkin ibunya, atau masih banyak kemungkinan yang entah apa tapi berhasil menciptakan senyuman tipis di bibirnya. Dia, yang waktu itu menunggu sendirian ditinggal temannya sementara yang entah mau kemana. Dia, yang waktu itu duduk di sebrang kiri gue, di ruang tunggu stasiun itu.

Masa bodo dengan seseorang yang mungkin memperhatikan gue yang sedang memperhatikan dia diam-diam darisana. Lalu persetan. Persetan dengan waktu yang sudah mengharuskan gue memasuki peron untuk segera berangkat ke Surabaya. Gue berdiri dari tempat duduk gue, kemudian berjalan, berjalan melewati dia. Lewat sudut mata, gue masih bisa melihat bahwa dia masih belum bergerak sedikitpun, masih tetap duduk, di tempat duduk awalnya. Gue pun masih tetap berjalan, berjalan tanpa menoleh dramatis ke arahnya seperti apa yang sering terjadi di film-film kebanyakan. 

Gue pun sudah duduk tenang di kereta bangunkarta yang akan membawa gue ke Surabaya, sambil diam-diam berpikir keras siapa sosok laki-laki yang daritadi gue perhatikan di stasiun itu. Dia ngga lebih dari seseorang yang mungkin sekedar gue liat di mall, pikir gue. Tapi kenapa sosoknya menjadi semenarik ini? #anjay. Gue pun kemudian membuang jauh-jauh segala rasa penasaran itu, lalu berpikiran selayaknya memang ngga ada yang spesial dari sekedar melihat seseorang yang sedang sama-sama menunggu kereta di sebuah stasiun.

Perjalanan pun masih panjang, dari Rahma, mba, dan Noval, dari kami berempat, cuma gue yang sukses belum tidur padahal screen hp sudah menunjukkan pukul satu pagi, walaupun gue sebenernya udah super ngantuk, tapi tetep, segala percobaan yang gue lakukan untuk segera terlelap nyatanya belum berhasil, dan akhirnya, tidur paling nyenyak dalam perjalanan itu gue alami setengah jam sebelum sampai di Surabaya.

Sebelum turun di Stasiun Gubeng, gue pun baru menyadari bahwa beberapa orang di gerbong ini sudah lebih dulu turun di stasiun-stasiun sebelum stasiun terakhir ini. Sudah banyak kursi yang kosong. Seperti biasa, gue mulai melihat penumpang lain di sekitar gue, mulai dari depan, samping, dan akhirnya sampai pada pandangan ke arah kursi belakang sana, di dekat pintu penghubung ke gerbong yang lainnya. Iya. Ada dia. Dia si pembawa carrier merah yang beberapa jam lalu berhasil menarik rasa penasaran gue. Dia, yang pada saat itu sedang jelas-jelas melihat gue yang sedang melihat kursi-kursi lain yang masih berpenumpang. Bingung? Iya. Gue yang logikanya berjalan melewati dia ketika pertama kali masuk ke gerbong ini dan mencari dimana tempat gue seharusnya duduk nyatanya ngga melihat keberadaan dia yang sudah lebih dulu  duduk di kursinya. Oh jadi daritadi yang dikira udah beda tujuan ternyata masih disini-sini juga.

Gue pun turun, lalu segera bergegas untuk mencetak boarding pass untuk perjalanan berikutnya. Dan disanalah dia. Lagi. Masih bersama seorang temannya yang waktu itu memakai topi cokelat dan berkacamata. Gue pun dengan sabar menunggu sampai dua jam berikutnya sebelum kereta membawa gue ke tujuan akhir, Malang. Gue sangat yakin ruang tunggu di stasiun itu ngga begitu besar, tapi entah kenapa kali ini, gue ngga bisa menemukan sosok si pembawa carrier merah itu. Mungkin dia duduk di ruang tunggu yang lain, mungkin dia sedang membeli cemilan, mungkin sedang ke toilet, mungkin sudah sampai di tujuan terakhirnya disini, mungkin sudah di perjalanan selanjutnya, atau masih terlalu banyak kemungkinan yang lainnya.

Kali ini mungkin emang udah bener-bener beda tujuan, gue dan si pembawa carrier merah. Gue pun kembali memasuki gerbong kereta, masih tetap memperhatikan orang lain dan ya, kali ini memang udah ngga ada dia, atau lebih tepatnya, sudah tidak lagi satu gerbong seperti semalam. Kereta pun berangkat menuju Malang, ke kota yang sejak setahun lalu menjadi kota yang mati-matian gue harapkan setiap harinya bisa gue datangi demi untuk bertemu dengan dia, dengan seseorang yang saat ini mungkin sudah lebih menantikan kehadiran orang lain yang ingin mengunjunginya disana.

Pukul delapan lewat, kereta pun sampai di Stasiun Malang, gue yang sudah tidak lagi berharap bertemu dia lagi, buat apa ketemu lagi? Berani ngajak kenalan juga engga. Gue masih terus berjalan menuju arah keluar, masih dengan mendorong-dorong koper abu-abu gue, masih tetap berjalan menaiki tangga sambil melihat dan sesekali menertawakan mba yang terlihat keberatan menarik kopernya sendiri. Gue masih ingat ada dua jalur di tangga yang mengarah keluar itu. Gue berjalan di jalur sebelah kiri, dan sesampainya di pijakan anak tangga yang terakhir, gue sepersekian detik melihat ke jalur tangga di sebelah kanan. And yes, he was there. Gue mengutuk ketidaktelitian gue pagi itu. Gimana bisa orang yang dari kemarin gue cari-cari dan tiba-tiba muncul di samping gue tapi gue sendiri ngga sadar? Sempet mikir sih mau tiba-tiba ngajak dia kenalan, tapi untuk mencegah resiko yang tidak diinginkan yaitu dikacangin, jadi gue mengubur dalam-dalam keinginan ngaco itu.

Kalo jodoh, pasti nanti ketemu lagi.

Gue lupa kata-kata itu ada di film apa. Tapi sedikit banyaknya gue percaya sama kata-kata itu. Bukan. Bukan jodoh yang artinya lo bisa ketemu-pacaran-nikah-langgeng sampe tua-sampe dipisahkan oleh kematian. Bukan. Bukan itu yang gue maksud. Yang gue tangkap disini adalah cara semesta yang tiba-tiba mempertemukan atau menghadirkan seseorang yang ngga pernah kita bayangin sebelumnya, entah, bisa jadi dengan berbagai cara, bisa jadi dimana aja.

Sama halnya seperti barang lo yang tiba-tiba hilang, udah lo cari dimanapun ngga ada, tapi beberapa hari kemudian tiba-tiba ada seseorang yang bilang sama lo, "eh ini punyamu yang kemarin dicari-cari kan?" kalo kasusnya kayak gini, berarti masih rezeki, katanya. Perumpamaannya beda ya? Jodoh dan rezeki, ya beda dikit gapapa lah ya? Pasti yang baca ini juga ngerti kan? Iya. Semoga.

Gue ngga mau bilang si pembawa carrier merah itu 'jodoh' gue di perjalanan ini. Emang lu siapa din bisa bilang gitu. But hi, semesta rasanya selalu punya cara tersendiri untuk membuat hal-hal tak terduga diluar yang bisa kita bayangin, ya?

Silahkan bilang gue baper sama stranger, bilang gue lebay, anything you named it. Tapi satu hal, mungkin kedengerannya cheesy, tapi somehow, gue sangat senang bahwa ada kejadian ini. Ada kenangan yang bisa gue ingat dari perjalanan ini, ada suatu hal yang membekas di ingatan gue ketika mungkin nanti gue kembali menginjakkan kaki di suatu stasiun, atau bisa jadi, ada dia lagi yang akan gue temui di ruang tunggu keberangkatan suatu hari nanti.

:)

Senin, 13 Juni 2016

Senior High School? Done! #2

30 Mei 2016.
Hari H berangkat ke Jogja! Flight jam 5:55, bangun jam 3. Cuci muka, gosok gigi, ganti baju, makan. Heran juga kenapa mandi ngga ada di to-do-list gue pagi itu. Ya iyalah! Mandi sepagi buta itu, siapa juga yang mau? :)) Otw jam 4:15 an, sampe bandara jam 5an, dan udah boarding. Sampe bandara, ngga ada acara duduk-duduk manja di boarding lounge, sampe sana, urus ini itu, naik bus, tiba-tiba udah ada di pesawat aja. Dua kata: super hectic!

Hari itu, gue, rahma, dan mba bayun (baca: kita) mendarat di Jogja kira-kira jam 7an, dari situ langsung ke penginapan di Pesona Merapi, rapi-rapi sebentar, lalu cus makan! Hari pertama ga terlalu banyak kegiatan mengingat besok hari h sbmptn. :') jadi setelah taruh barang di penginapan kita langsung pergi makan ke House of Raminten. Sampe sana, cuma tiga kata sih menurut gue, nyaman tapi menyeramkan. <anjay. Eh, bentar-bentar, ini kenapa sekarang tiap post selalu ada kata anjay nya ya? Oke skip. Back to topic ya, kita makan disana sekitar jam-jam makan siang, makanannya biasa aja sih menurut gue dan beberapa nama minumannya unik banget, atau malah aneh, contohnya, yang gue inget: Es cemburu buta. :( jangan. Jangan tanya gue kenapa nama minumannya bisa itu karna gue belum sempet nanya ke pelayannya.

Bersiap untuk part yang sebenernya lucu tapi juga menjijikan ya. Setelah kekenyangan dan nunggu makanannya turun, gue, rahma, mba bayun, plus mba rika lagi anteng nih masing-masing main hp. Eh tiba-tiba, ngga ada angin dan ada hujan (kebetulan waktu itu lagi hujan) Lah. Apasih din. Tiba-tiba ada bunyi plak. Bukan. Itu bukan bunyi orang ditampar. Melainkan bunyi sesuatu yang jatuh dari atas dan mendarat tepat di atas meja makan. Iya. Di meja makan tepat depan muka gue. Sepersekian detik gue masih duduk diem di tempat, beberapa detik berikutnya gue nengok buat liat yang jatuh itu apa, dan pas nengok ke meja, yak benar sekali, ternyata itu cicak. :)) Woi. Apa rasanya baru selesai makan dan ngeliat cicak jatuh depan muka sendiri? Ya silahkan bayangin aja sendiri. :)

Guest house nya!

31 Mei 2016.
Hari-H sbmptn! Hari yang udah dari jauh-jauh hari ditakutin akhirnya datang juga! Setelah paginya udah nganterin rahma ke ugm karna dia saintek dan test-nya jam-jam pagi, tibalah giliran gue otw ke Universitas Negeri Yogyakarta aka UNY! Gue masih inget banget gue yang tiba di gedung pasca sarjana uny pas banget jam setengah sepuluh padahal mulai sbmptn jam 9:45. Di luar ruangan sih sepi, gue kira belum ada yang dateng walaupun kayaknya cukup impossible. Akhirnya gue ketok pintu ruangan gue dan boom! Di kelas itu udah ada dua pengawas dan sekitar 20 anak di ruangan itu udah duduk dengan rapi. Good job, dinda, udah dateng mepet dan berakhir diliatin semua orang di ruangan itu. Gue pun lanjut nyari kursi dimana gue seharusnya duduk, masih ada sekitar tiga kursi yang kosong, dari kemungkinan terburuk, gue liat dari kursi paling depan. Alhamdulillah yang di tempel disitu bukan nomor peserta gue. Gue lanjut menelusuri kursi kosong berikutnya dan akhirnya! nomor peserta gue tertempel di kursi barisan keempat!

Sesi pertama selesai! Karena ada jeda istirahat sebelum sesi kedua, gue memutuskan untuk keluar kelas dulu sebelum dipusingkan oleh soal-soal soshum. Begitu keluar kelas... mati gue. Sepenglihatan kanan dan kiri gue, semua orang rasanya udah nemu temen masing-masing. Lah gue? Masih bingung mau ajak kenalan orang yang mana. Setelah mengumpulkan keberanian sksd yang cukup nekat, gue langsung berjalan menuju anak perempuan di sebrang gue. Penampilan fisiknya, dia menggunakan hijab, menurut gue pribadi, wajahnya baik dan jauh dari kesan galak dan jutek.

"Misi, maaf boleh bareng ngga ya? Gue ngga ada barengan nh soalnya." kata gue.

Woi sok deket amat, Din.

"Oh iya boleh kok."
"Aduh tau toilet dimana ngga ya? Anterin yuk...." Iya, gue tau ini gue minta ditinggalin banget.
"Ada di pojok, yuk"

Iya, sampe di detik ini gue belum saling menyebutkan nama satu sama lain. Keluar dari kamar mandi, segala pikiran jelek gue yang mikir siapa tau ditinggalin ternyata tidak terbukti, nyatanya gue masih ditungguin oleh perempuan yang belum sampe sepuluh menit gue ajak kenalan tersebut. Jurus basa-basi ala Dinda pun gue kerahkan semampu gue. Percakapan kembali dimulai saat gue nanya 'enaknya duduk dimana ya yang ngga panas?' Setelah mempertimbangkan beberapa hal, gue dan dia pun berjalan ke arah tempat duduk yang telah kami sepakati. Dari situ gue pun menyebutkan nama yang diawali dengan 'Oh iya kita belum kenalan ya' dia pun menyebutkan namanya,

"Nisa." kata dia dan sependengaran gue.
"Oh Nisa?" gue memastikan.
"N, e, y, s, a" eja dia.

Duh bolot amat, Din. :)))

Sepanjang waktu istirahat yang kurang lebih selama satu jam, gue dan dia pun cukup banyak bertukar cerita, mulai dari kekagetan dia yang mendengar bahwa gue dari Jakarta, kebodohan gue yang lagi-lagi baru sadar bahwa dia ternyata tidak seruangan test dengan gue, walau tetep aja ruangannya bersebelahan, sampai pada obrolan ngomongin orang yang sudah hari h dan saat istirahat masih ada yang membaca buku pelajaran. Gue pun membagi bekal roti mengingat kita berdua gatau kantin uny itu letaknya dimana. Beberapa menit sebelum bel masuk, dia pun sempat meminta id line gue, tentu saja gue kasih. Tapi persetan dengan sinyal xl di uny, karena saat itu kita satu sama lain ga dapet sinyal dan gabisa saling add. Persetan juga dengan gue yang telat un-private id line karna pada akhirnya Neysa baru bisa add id line gue setelah gue kembali lagi ke Jakarta pada tanggal 5 Juni. Itu pun setelah dia berinisiatif untuk mention gue lewat twitter. I know, my bad. Maaf ya, Ney!

1 Juni 2016.
Beberapa hari ke depan dimulai dari hari ini, ngga ada yang bener-bener spesial sih, cuma jalan-jalan di Jogja aja!

-Puncak Kebun Buah Mangunan.




2 Juni 2016.
- Pantai Pok Tunggal, Gunung Kidul
Untuk sampe disini,kurang lebih sekitar 60 km atau dua jam dari kota Jogja sendiri.



Lagi-lagi, ada kejadian yang ternyata super bodoh kalo sekarang dipikir-pikir. Iya, foto gue diatas difoto beberapa menit sebelum kejadian bodoh itu terjadi. Berawal dari gue dan rahma yang mau main air dengan niat cuma ngenain kaki ke arah datangnya ombak dan mba bayun yang menjadi juru foto untuk menghasilkan foto-foto candid gue dan rahma. Akibat ke sotoy-an gue dan rahma yang malah maju ke arah ombak bukan nunggu ombaknya nyamperin kita, jadi lah gue dan rahma terus maju ke arah pantai dimana datangnya ombak. Awalnya, masih aman, masih gapapa, kita masih ketawa-ketawa aja. Dan tiba-tiba... byur! Datangnya ombak pun tinggi dan mengenai kaos kita berdua. Di tambah mba bayun yang tiba-tiba juga ikutan ke arah pantai dan ternyata dia malah yang lebih sial dari gue dan rahma. Bayangin aja, dia kena ombak yang pada saat itu lumayan tinggi dan yang paling sial.... ombaknya kena tas dia. Bener-bener air semua masuk ke dalam tas dia. Sampe-sampe kalo tasnya semacam dituang, air laut semua keluar dari sana. Hp, charger, powerbank, dompet, dan kartu-kartu semua kena korban ombak nakal tersebut. 

Bodoh? Banget. Ngapain coba mau ke pantai masih bawa-bawa tas, yang sialnya lagi tas pergi dan ngga anti air? Panik? Banget. Mana sehabis itu hp, kabel charger, dan powerbank mba bener-bener ngga bisa nyala dan ngga bisa dipake. Samsek. Dari kejadian ini pelajaran yang bisa gue ambil adalah:

- Jangan mengabaikan orang-orang di sekitar pantai yang emang udah tau keadaan pantainya gimana.
(ps: sebelum kita ke pantai, di parkiran, bapak-bapak penjaga nya padahal memang udah bilang kalo ombaknya lagi tinggi.)

- Kalo mau ke pantai, udah, gausah bawa tas sekalian. Taruh di mobil atau penitipan biar lebih aman.

- Kalo mau bawa tas sekali pun, prepare yang memang anti air, biar kalo ada apa-apa mendadak, setidaknya barang-barang lo masih aman. 

Dan yang paling penting:

- Jangan. Pernah. Nyamperin. Ombak.
Biarin aja tungguin ombak yang nyamperin lo. Iya, sesekali kita harus tahan gengsi ke si ombak, jangan mau ngejar dia duluan. Eh ini ngomongin apa sih? Tapi sumpah ya, kejadian ketika ombak tingginya dateng dan gue sama rahma bener-bener ngga akan nyangka, yang gue pikirin cuma satu: wah abis nih gue hanyut kebawa ombak. Iya. Se-serem itu, walaupun mungkin gue gagal nyeritain kejadian itu lewat tulisan ini. 

-

3 Juni 2016.
Setelah kejadian tidak terlupakan di pantai itu, gue pun melanjutkan perjalanan menuju Semarang yang ditempuh selama kurang lebih 6 jam dari Gunung Kidul. Fyi, kita bertiga berjelajah dari Jogja ke Semarang dengan menggunakan mobil. Iya, mobil sewaan disini, yang gue beri nama Mola, which is singkatan dari Mobil Ayla. Si putih mini yang super kuat karena mau diajak ke atas gunung dan melewati tanjakan dan turunan tanpa ngambek! Mau tau siapa yang nyetir? Tidak lain dan tidak bukan, mba bayun! Terimakasih banyak, mba bayun, yang sudah mengorbankan waktu tidurnya untuk menyetiri rahma dan dinda. :))

Di semarang kita bertiga bermalam sementara di kost-an kakaknya temennya rahma, Kak Biela, yang adalah kakaknya Tammy, temennya rahma di Dream House Cafe! info lebih lanjut : twitter dan instagram.

Disini, siangnya kita memutuskan untuk makan di Umbul Sidomukti! Dingin dan gemes banget tempatnya!


Gue rasa, ngga ada hari tanpa kerusuhan karna hewan-hewan yang kita temuin disini. Malamnya, gue, rahma, dan tammy dihebohkan dengan mba bayun yang punggungnya dijalani oleh kecoa. Ngga perlu dibahas lebih jauh. Dari heboh teriak ketakutan, dari ketawa sampe keluar air mata dan perut sakit, udah dilewatin malam itu. 

4 Juni 2016.
Test Undip! Dapet di Fakultas Hukum! Nothing special. Tanpa sksd, tanpa kenalan sama orang baru, cuma capek karna harus naik ke lantai 3 dan harus keringetan pas masuk kelasnya karna.. ya tadi, harus mendaki anak-anak tangga dulu menuju ruangan testnya. Happy me! Karna lagi-lagi tidak duduk di barisan paling depan. Dan sorenya, kembali ke Jogja dengan menggunakan mobil. (lagi)

5 Juni 2016. 
Utul ugm di SMK Tamansiswa Jetis! Lagi-lagi ngga ada yang spesial selain kali ini gue ada temen inten yang dapet testnya disini juga, walaupun beda ruangan, terimakasih Ojan aka Fauzan yang udah mau nungguin gue dateng sebelum masuk ke ruangan! 

Dan begitu juga cerita trip Jogja - Semarang - Jogja ini berakhir disini. Jam 8 malam, kami bertiga pulang kembali ke Jakarta! Bersiap untuk kemudian menjalani sahur pertama di kereta! 




Yeay akhirnya tulisan yang penting tapi ngga penting ini selesai juga.

Terimakasih kepada siapapun yang nantinya siapa tau menyempatkan waktunya untuk membaca ini! Dinda minta doanya ya untuk hasil sbmptn dan ujian undip dan ugm nya. Semoga hasilnya yang terbaik, aamiin! 

Sampai nanti lagi,

di cerita penting tapi ngga penting berikutnya!

Kamis, 09 Juni 2016

Senior High School? Done! #1

First of all, hallo blog, hallo semua, hallo, untuk yang mungkin tidak sengaja meluangkan waktunya untuk membaca ini. Pertama-tama, selamat menjalankan ibadah puasa semua! Semoga selalu diberi kelancaran dan bisa menahan hawa nafsunya, ya! 

Sudah lama juga tidak bercerita disini, ya? Rindu. Maaf sudah mengabaikan kamu dan terimakasih masih mau menerimaku ya, blog. Bingung juga mau mulai cerita darimana. Terlalu banyak cerita di kepala, tapi terlalu sulit diungkapkan lewat kata-kata. < anjay.

Flashback sedikit ya, ngga kerasa gue telah menyelesaikan wajib belajar dua belas tahun. Singkat cerita, gue menjalani kelas dua belas ini dengan semangat yang cukup baik, walaupun super hectic karna dua minggu sebelum un masih banyak ketinggalan materi, walaupun takut setengah mati buat ngejalanin un, gue tetep optimis untuk lancar un. Terimakasih juga untuk Hanna yang telah menjadi chairmate sebangku dinda selama kurang lebih sebulan sebelum un, terimakasih udah mau ajarin dinda akuntansi pas udah mepet un, walaupun akhirnya sampe hari ini masih ngga ngerti. Terimakasih atas kerjasama nya untuk saling menyemangati, Han! 

Un pun selesai, mau seneng karna bebas, tapi kenyataannya juga ya ngga bebas-bebas amat. Intensif bimbel pun singkat cerita telah berhasil gue jalani, ngga kerasa juga hari pengumuman kelulusan dan snmptn tiba bersamaan. Man! Gue lulus! Gue lulus dari sekolah yang bener-bener dulunya bahkan ngga gue tau ada sekolah bernama sman 77. Yang gue mau dari dulu cuma 68, 68, dan 68. Ngga nyangka, seneng, bersyukur bisa ngelewatin tiga tahun disana dengan tanpa masalah. Even gue belum bisa ngasih dan nyumbang apa-apa buat 77, belum bisa bawa nama 77 di masyarakat luas. Terimakasih ya sekolah hijau, 77, sudah bersedia menjadi saksi bisu keansosan gue selama sekolah disana. Akan sangat rindu dengan setiap sudut di 77 nantinya.

Kembali ke hari pelepasan kelulusan. Dari pagi-pagi, pelepasan di sekolah yang rasanya seneng setengah mati, tiba-tiba ilang gitu aja ketika gue tiba di rumah. Jam satu siang, pengumuman snmptn pun tiba, gue memilih untuk menunda membukanya. Gabakal lolos juga, pikir gue. And yes, gue beneran tidak dinyatakan lulus snmptn 2016. Kecewa? Pasti. Awalnya yang sok kuat udah niat ngga mau nangis pun, ujung-ujungnya nangis juga. Dasar dinda cengeng. Tapi yaudah, ngga bisa dan ngga perlu nyalahin siapa-siapa juga kan. Disyukuri aja masih dikasih kesempatan bisa ikut snmptn. Berat rasanya liat orang lain yang udah bebas, udah dapet snmptn, ngga perlu lagi ngurusin mau kuliah dimana, mau daftar sbm dimana, mau ikut mandiri apa aja. But overall, gue ikut seneng dengan semua orang yang udah berhasil menjemput cita-citanya di jalur snmptn. Congratulation guys!

Sementara itu, gue masih harus berjuang di Jogja untuk ujian sbmptn disana, lalu lanjut ke Semarang untuk um Undip, lalu kembali ke Jogja untuk utul ugm. Well, karna ini udah kepanjangan, akan gue lanjut di post berikutnya ya! Doakan supaya gue ngga mager buat ngetik di post berikutnya,

See u!

and to be continued.. 

(( attach foto nya menyusul setelah post ini udah di publish. :p ))

my support system! Bang dandi dan mamu! (-) ayah.
guru selama tiga tahun: Pak Sigit!
Dapet teddy dan bunga! walaupun dari abang. :')